Menggugat Kemerdekaan

Sabtu, 15 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Kasir Hadi (Anak Muda Maffa dan Ketua Persatuan Serikat Buruh Kota Ternate)

Malut.Garudapost.Id | NASIONAL–Agustus telah tiba, seperti tahun-tahun sebelumnya, poster-poster bertuliskan semarak kemerdekaan dan ucapan selamat bertebaran di kolong-kolong sosial media. Merah putih dikibarkan serentak di depan rumah. Sejak Revolusi 45 sampai hari ini, Indonesia telah hampir berusia senja.

‎Kemerdekaan itu bukan baik hati negara kolonial, sebab kolonial kata Pramoedya Ananta Toer  “Dan satu yang tetap, Nak, abadi: yang kolonial, dia selalu iblis”. Akan tetapi,  kemerdekaan itu dibayar mahal dengan berjuta nyawa  petani,buruh, nelayan, kaum miskin kota, pelajar, perempuan dan seluruh Rakyat tertindas. Namun apalah arti 81 tahun kemerdekaan itu untuk mereka?.

‎Malangnya, dibawah sistem kapitalisme hari ini, Kemerdekaan itu semakin kehilangan maknanya. Buruh yang merupakan pencipta kekayaan dan kemajuan peradaban, bekerja berjam-jam bahkan lembur diupah dengan harga yang tak seberapa, belum lagi demi stabilitas perusahaan, mereka tak jarang menjadi korban.

‎Menurut data Kemnaker, ada sekitar 43.805 Ribu buruh di Indonesia yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Selain itu, mereka juga selalu diperhadapkan dengan kondisi kerja yang tidak aman, pada sumber yang sama, Kemnaker mencatat bahwa sampai hari ini ada 462.241 kasus kecelakaan kerja. Belum lagi temuan serikat pekerja yang bahkan kadang lebih tinggi. Disisi lain, ada petani yaang selalu tersingkir dari tanahnya sendiri, dirampas ruang hidupnya demi kepentingan kapital.

‎Penyingkiran petani ini terjadi masif dimana-mana, bentuknya bermacam-macam mulai dari kriminalisasi, intimidasi serupa yang terjadi pada warga sukahaji dan petani pakel yang berjuang mempertahankan tanahnya sampai pada  teror pembunuhan berantai seperti yang terjadi pada hutan dan lahan perkebunan masyarakat Halmahera timur dan tengah yang sampai hari ini tidak ditemukan pelakunya.

‎konflik agraria ini terus meningkat setiap tahunnya. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat, sepanjang oktober 2025-1 mei 2026 ada 22 petani yang ditembak, 272 mengalami kekerasan dan 450 orang dikriminalisasi.

‎Selain itu, di tengah euforia perayaan kemerdekaan ini, demokrasi semakin bobrok dan tak keruan, Ia memiliki makna hanya pada kontes pemilu belaka  selebihnya Ia kehilangan wajah dan tak bermakna apa-apa.

‎Militer yang harusnya mengurus keamanan, melalui revisi Undang-Undang TNI yang disahkan secara terburu-buru dan diam-diam itu, memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk mengintervensi politik dan ranah sipil. Selain itu, Masih ingatkah kita, pada tragedi 98, dan prahara Agustus 2025 kemarin?, ada ratusan bahkan ribuan pelajar dan mahasiswa yang dipenjara bahkan dibunuh hanya karena bersuara. Ini lah wajah demokrasi borjuis, Ia begitu picik.

‎Tak hanya sampai disitu, pelajar dan mahasiswa juga  tiap hari dihimpit dengan biaya pendidikan yang semakin tinggi. Ditambah lagi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) rezim Prabowo-Gibran yang pada kenyataannya tidak gratis, justru memangkas habis anggaran pendidikan.

‎Sehingga berdampak juga pada Guru honorer dan P3K yang bekerja mencerdaskan kehidupan bangsa namun dibuat melarat dan semakin menderita, deru napas  terengah-engah bergumul dengan harga bahan pokok dan BBM yang melambung tinggi. Di satu sisi, juga ada nelayan yang lautnya dipagari dan dicemari limbah perusahaan akibat tata kelola yang tidak ramah lingkungan.

‎Di sisi yang lain, juga ada perempuan yang selalu menjadi korban,  diberi beban ganda, kerja domestik dan kerja reproduksi yang secara gratis masuk ke kantong borjuis.

‎Atas Segala persoalan yang dihadapi Rakyat Indonesia hari ini, lantas perayaan macam apa yang harus kita buat untuk menjemput hari kemerdekaan. Toh, kemerdekaan itu hanya dinikmati oleh elit politik borjuis.

‎Memang begitu adanya, selama Indonesia bahkan dunia berada dibawah kendali kapitalisme, Rakyat kelas bawah tak lebih dari hanya sekedar mesin dan komoditas untuk melipatgandakan keuntungan mereka. Kemerdekaan dibawah bayang-bayang kapitalisme seperti  kata wiji bagai nasi dimakan menjadi tai.

‎Maka, seluruh rakyat tertindas, kita tak cukup hanya meratapi nasib dan berjalan sendiri, mulailah membangun kesadaran politik yang lebih maju melalui serikat-serikat bahkan partai yang revolusioner.

‎Menghimpun diri dalam  komite perlawanan, terorganisir dalam satu barisan dengan cita-cita ideologi yang sama yakni meruntuhkan kapitalisme dan membangun dunia baru yang lebih manusiawi, adil dan setara.  Dunia itu hanya bisa diwujudkan melalui Revolusi sosialis.

Rubrik: Opini

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Ditresnarkoba Polda Malut Ungkap 11 Sachet Sabu, Satu Pelaku Diamankan
Penanganan Medis Mewarnai Kegiatan Safety Riding Tahun 2026 di Makorem 152/Baabullah
Korem 152/Baabullah Gelar Bimbingan Teknis Safety Riding Tahun 2026
Panen Melon Hidroponik, Kapolda Malut Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan Terbatas
Ditlantas Polda Malut Gandeng Ojol Bersihkan Trotoar dan Salurkan Sembako
Personel Dit Samapta Polda Malut Raih Juara 1 Kejurda Pencak Silat Gubernur Cup II 2026
Polda Malut Gelar Salat Istisqah dan Maulid Nabi, Kapolda Ajak Personel Teladani Akhlak Rasulullah
DANREM 152/BAABULLAH HADIRI JALAN SEHAT MERIAHKAN HUT KE-81 RRI

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 14:52

Ditresnarkoba Polda Malut Ungkap 11 Sachet Sabu, Satu Pelaku Diamankan

Kamis, 17 September 2026 - 08:50

Penanganan Medis Mewarnai Kegiatan Safety Riding Tahun 2026 di Makorem 152/Baabullah

Kamis, 17 September 2026 - 08:48

Korem 152/Baabullah Gelar Bimbingan Teknis Safety Riding Tahun 2026

Rabu, 16 September 2026 - 14:31

Panen Melon Hidroponik, Kapolda Malut Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan Terbatas

Jumat, 11 September 2026 - 16:39

Ditlantas Polda Malut Gandeng Ojol Bersihkan Trotoar dan Salurkan Sembako

Berita Terbaru