MENGGELITIKI TUPOKSI VERSI BEM UNKHAIR

Kamis, 28 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rujia Amir (BENDUM BEM FIB UNKHAIR)

Kadang saya bingung melihat arah organisasi mahasiswa hari ini. BEM UNKHAIR yang seharusnya menjadi pusat koordinasi dan perjuangan mahasiswa justru terasa semakin jauh dari mahasiswa itu sendiri. Ia besar secara nama, tapi kehilangan daya sentuh. Ramai secara publikasi, tapi minim terasa dalam kerja nyata.

Masalah UKT masih berulang. Mahasiswa masih dipusingkan administrasi. Calon mahasiswa masih kebingungan menghadapi sistem kampus yang rumit. Tapi yang lebih sering turun mengurus itu semua justru kami di BEM-BEM fakultas. Kami yang dengar langsung keluhan mahasiswa. Kami yang sibuk cari solusi. Kami yang mondar-mandir menghadapi birokrasi kampus.

Sementara BEM universitas seperti berdiri jauh dari semua itu,Lalu muncul pertanyaan yang sampai sekarang belum benar-benar terjawab: sebenarnya koordinasi di tubuh BEM UNKHAIR ini masih hidup atau tidak?

Karena lucunya, Menteri Dalam Negeri BEM UNKHAIR yang seharusnya menjadi penghubung antar BEM fakultas saja, namanya banyak yang bahkan tidak tahu. Orangnya di mana juga tidak jelas.

Ini bukan soal personal. Ini soal fungsi organisasi.

Karena bagaimana mungkin posisi yang tugasnya mengoordinasikan BEM fakultas justru tidak terasa keberadaannya di tengah BEM fakultas itu sendiri?

Bahkan jujur saja, banyak dari kami lebih sering bergerak sendiri dibanding merasa dikonsolidasikan oleh BEM universitas. Tidak ada komunikasi yang intens. Tidak ada arah gerakan bersama yang benar-benar terasa. Yang ada hanya hubungan formalitas yang hidup saat momentum tertentu, lalu hilang lagi.

Kalau memang orangnya sudah tidak aktif, sudah wisuda, atau memang tidak mampu menjalankan tugas, minimal ada reshuffle.

Karena organisasi bukan tempat menyimpan nama di struktur kepengurusan. Jabatan itu harus hidup dalam kerja. Kalau kursi masih diisi tetapi fungsinya kosong, itu bukan kepengurusan, itu pajangan organisasi.

Dan yang paling disayangkan, keadaan seperti ini seperti dibiarkan terlalu lama. Tidak ada evaluasi yang benar-benar terasa. Tidak ada keberanian untuk membenahi internal organisasi sendiri. Padahal organisasi yang sehat bukan organisasi yang takut dikritik, tapi organisasi yang berani memperbaiki dirinya.

Ironinya lagi, BEM UNKHAIR justru lebih cepat bersuara soal isu-isu di luar regional dibanding menyelesaikan problem di Maluku Utara sendiri. Seolah lebih penting terlihat aktif di luar daripada hadir untuk mahasiswa dan masyarakat di daerah sendiri.

Padahal keberpihakan itu dimulai dari yang paling dekat.

Apa gunanya sibuk bicara soal perjuangan kalau mahasiswa di kampus sendiri masih merasa berjalan sendirian?

Lalu mahasiswa mulai bertanya lagi: setelah menang lalu mau buat apa?

Karena kemenangan dalam politik kampus bukan akhir perjuangan. Jabatan bukan hadiah eksistensi. Ia adalah tanggung jawab. Tapi hari ini organisasi justru terlihat lebih sibuk menjaga citra aktif dibanding memperlihatkan hasil kerja yang benar-benar terasa.

Sedikit-sedikit flayer. Sedikit-sedikit publikasi. Seolah organisasi hari ini hidup dari desain dan dokumentasi.

Padahal mahasiswa tidak butuh organisasi yang hanya pandai terlihat aktif di media sosial. Mahasiswa butuh organisasi yang benar-benar hadir saat keadaan sedang sulit.

Yang lebih ironis, kepengurusan ini sudah berjalan sejak November 2024 dan sekarang hampir masuk dua periode kepengurusan. Waktu selama itu seharusnya cukup untuk menunjukkan arah gerakan yang jelas. Tapi sampai hari ini mahasiswa masih sibuk mencari di mana sebenarnya fungsi perjuangan itu dijalankan.

Jangan sampai organisasi mahasiswa hanya menjadi ruang formalitas yang kehilangan keberanian. Jangan sampai demokrasi kampus cuma hidup saat pemilihan dan mati setelah kekuasaan berhasil didapatkan.

Karena ketika jabatan hanya dipertahankan tanpa kerja, koordinasi hilang tanpa evaluasi, dan tanggung jawab mulai ditinggalkan, maka yang sebenarnya sedang runtuh bukan hanya organisasi.

Tetapi kepercayaan mahasiswa terhadap demokrasi kampus itu sendiri.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Penanganan Medis Mewarnai Kegiatan Safety Riding Tahun 2026 di Makorem 152/Baabullah
Korem 152/Baabullah Gelar Bimbingan Teknis Safety Riding Tahun 2026
Cegah Sejak Dini, Polres Halsel Berikan Edukasi _Bullying_ dan Bahaya Narkoba kepada Pelajar
Keselamatan Anak Tanggung Jawab Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan
11 Reformer Halteng Lulus PKA Angkatan I Tahun 2026
Polda Malut Gelar Turnamen Esports Kapolda Malut Cup 2026, Dorong Generasi Muda Berkarya dan Hindari Kenakalan Remaja
Ketua BEM FIB UNKHAIR: Pemkab Halsel Jangan Pertaruhkan Masa Depan Daerah dengan Mengabaikan Pendidikan
Bangun Generasi Tertib dan Bebas Pengaruh Negatif, Polres Kepulauan Sula Berikan Edukasi kepada Pelajar MAN 1 Sanana

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 08:50

Penanganan Medis Mewarnai Kegiatan Safety Riding Tahun 2026 di Makorem 152/Baabullah

Kamis, 17 September 2026 - 08:48

Korem 152/Baabullah Gelar Bimbingan Teknis Safety Riding Tahun 2026

Selasa, 15 September 2026 - 16:02

Cegah Sejak Dini, Polres Halsel Berikan Edukasi _Bullying_ dan Bahaya Narkoba kepada Pelajar

Jumat, 28 Agustus 2026 - 18:59

Keselamatan Anak Tanggung Jawab Bersama, Orang Tua Diminta Tingkatkan Pengawasan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:48

11 Reformer Halteng Lulus PKA Angkatan I Tahun 2026

Berita Terbaru